Minggu, 05 Januari 2020 20:38:00

KETIKA HUKUM SUDAH DIKAKI

Net.
Ilustrasi.

GLOBALRIAU.COM - “Hukum” kata yang kerap terdengar ditelinga setiap insan, Hukum menjadi tombak keadilan bagi setiap negara untuk melaksanakan keadilan. Tua-muda, miskin-kaya, besar-kecil, siapapun yang bersalah tentu akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Masalah terpelik yang dihadapi dinegeri saat ini yakni hukum, masyarakat selalu mendengar kalimat “ setiap warga sama dimata hukum, setiap yang bersalah akan dihukum” bahkan kalimat ini adalah kalimat yang sangat melekat dipikiran mereka, namun mirisnya setiap masyarakat tak merasakan akan keadilan yang dijanjikan para penegak hukum yang bersalah justru bisa menjadi benar dan yang benar bisa menjadi bersalah.

Didalam pancasila sila kedua tertuang kalimat “ kemanusiaan yang adil dan beradap” dari kalimat ini dapat disimpulkan setiap warga negara berhak akan hak kemanusiaannya berhak mendapatkan keadilan yang sama, negara menjanjikan akan kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh warga negaranya. Jika benar begitu mengapa banyak keluhan yang keluar dari mulut warga yang merasakan tidak mendapat keadilan? Apakah penyebab utama hukum tak terealisasikan dengan baik?

Disini penulis dapat menyimpulkan penyebab utama akan hukum yang dianggap cacat dinegeri tercinta, yakni pertama kekuasaan, dimana rakyat kecil yang hanya sebagai rakyat akan kalah dengan kuasa yang dimiliki para pejabat, para pejabat memiliki power klebih untuk kabur dari hukum yang seharusnya menjerat mereka.

Yang kedua jabatan, setiap pejabat public memiliki hak akan jabatannya salah satunya yang disalah gunakan oleh mereka dengan mengenyampingkan hukum yang menimpa mereka. Yang ketiga kekayaan, benar kalimat “ uang bisa membeli segalanya” saat ini setiap insan yang memiliki kekayaan dapat membeli hukum yang ada, sementara rakyat kecil yang hidup dengan pas-pasan bahkan untuk melanjutkan hidup harus banting tulang, bermandikan keringat terlebih dahulu sementara pejabat yang memiliki kekayaan yang bahkan kekayaan berasal dari uang rakyat yang mereka curi dipergunakan untuk menyelamatkan diri dari hukum.

Miris sekali hukum dinegeri ini, bahkan ibu pertiwi tak sanggup membendung air matanya, cita-cita yang diimpikan oleh para tokoh pendahulu hanya sebatas cita-cita dan impian, kata manis yang dijanjikan hanya sebagai kalimat fiktif penghantar tidur rakyat. Kerakusan yang membabi buta dari para birokrat dengan mengandalkan janji manis, pakaian rapi berdasi,  rambut klimis, sepatu mengkilap yang justru membuat negeri ini tak mencapai podium tertinggi nya Sampai kapan patologi seperti ini berlangsung? Sampai kapan rakyat di kelabuhi dan ditipu?.***

Penulis: Iin Annisa (Mahasiswi)

Share
loading...
Berita Terkait
  • 4 minggu lalu

    Menakar Usaha Anies Menangani Banjir di DKI

    Data-data juga sudah mereka buka ke publik, mulai dari debit air, personel yang bekerja, peralatan-peralatan, hingga penanganan pascabanjir. Misan tak sependapat dengan massa pedem
  • 4 minggu lalu

    Perlunya Penanganan Serius Dalam Permasalahan Aktivitas Pertambangan Ilegal yang Menyisakan Lubang Di Wilayah Ibukota Baru

    Adanya pertambangan ilegal juga meresahkan warga di sekitar area pertambangan, ini menjadi suatu hal yang serius karena pertambangan ilegal tidak hanya menyalahi aturan dan juga be
  • satu bulan lalu

    GERAKAN BESAR PEMUDA UNTUK MEMAJUKAN PENDIDIKAN DI INDONESIA

    Kepedulian terhadap pendidikan di Indonesia dari Forum Berbagi Ilmu Indonesia inilah kita bisa banyak belajar apa itu pentingnya rasa peduli, berbagi, dan memahami, dan menandakan
  • 2 bulan lalu

    DINASTI POLITIK GUBERNUR RIAU MEMANGKAS DEMOKRASI

    Pelantikan yang dilakukan pada 07 Januari 2020 itu dianggap sebagai tindakan yang memangkas demokrasi, pasalnya karena banyak dari mereka yang telah lama mengabdi namun harus mener
  • Komentar
    Copyright © 2020 Global Riau - Berita Riau Hari Ini. All Rights Reserved.
     
    loading...
    google.com, pub-1045294159295760, DIRECT, f08c47fec0942fa0 google.com, pub-1967056301068318, DIRECT, f08c47fec0942fa0