google.com, pub-1967056301068318, DIRECT, f08c47fec0942fa0
COVID-19
  • Home
  • Maritim
  • Covid-19 Hantam Ekonomi Kemaritiman, Terbukti Dumai Hanya jadi "Penonton"
Senin, 20 Juli 2020 17:13:00

Covid-19 Hantam Ekonomi Kemaritiman, Terbukti Dumai Hanya jadi "Penonton"

DUMAI, globalriau.com - Pandemi Covid-19 melumpuhkan seluruh sektor ekonomi, tidak terlepas juga bisnis kemaritiman yang merupakan salah satu penyumbang pajak terbesar bagi Alokasi Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari kegiatan ekspor dan impor.



Pada bisnis kemaritiman tidak sekedar ekspor dan impor, melainkan ada kegiatan pandu dan tunda serta labuh kapal yang keseluruhannya menghasilkan pundi-pundi uang untuk pemasukan bagi Indonesia.

Di Kota Dumai khususnya, akibat pandemi para pengusaha kapal dan pelabuhan babak belur. Hal itu diakibatkan kunjungan kapal menurun serta tutupnya pabrik di luar negeri yang menjadi negara tujuan ekspor minyak dan bahan baku lainnya.

Ketua Indonesian National Shipowners' Association (INSA) cabang Dumai, Herman Buchari beberapa waktu lalu saat berbincang dengan globalriau.com menjelaskan bagaimana covid-19 menghantam ekonomi kemaritiman di Dumai.

"Aktivitas pelabuhan sejauh ini tetap berjalan normal, namun tidak maksimal. masih banyak kapal nongkrong akibat muatan yang kurang disebabkan produksi serta aktivitas industri menurun." jelasnya.

Tidak sampai disitu, Herman menjelaskan bagaimana terjadinya penurunan aktivitas kapan di pelabuhan. Kapal yang ada kini sulit mendapatkan muatan (Cargo), sementara owner kapal harus tetap mengeluarkan biaya untuk operasional kapal yang tidak bergerak.

"Meski kapal tidak berjalan, owner tetap harus membayar, gaji crew, isi BBM, perawatan kapal, sertifikasi kapal, dan lainnya. Misalkan kapal parkir itu saja harus bayar setiap hari saat di labuh." sebutnya.

Tidak sedikit owner menjual kapal mereka, akibat kurangnya aktivitas kepelabuhanan saat pandemi sekarang. Kondisi itu terjadi kata Herman diakibatkan  sulitnya mendapatkan muatan kapal akibat industri diluar negeri tidak beroperasi.

"Di berapa negara banyak kapal yang terpaksa lego jangkar berbulan-bulan. Penyewa kapal tidak mau ambil resiko untuk bayar sewa kapal setiap hari, dan jika telat kembalikan kapal dikenakan demurage atau denda, untuk kapal besar ukuran 30.000 ton denda per hari bisa sampai Rp.300 juta, begitu juga sewa perhari bisa mencapai ratusan juta." ungkapnya.

Kondisi ini sebelumnya kata Herman, belum pernah terjadi. Hal itu semua diakibatkan imbas dari pandemi covid-19 ini.

Dilansir dari kontan.co.id pelabuhan di Singapura saat ini dipenuhi kapal tanker pengangkut minyak. Kapal tanker ini menunggu waktu untuk diturunkan. Tapi saat ini permintaan tengah berkurang.

Kondisi sekarang lanjutnya, kapal-kapal yang sudah bermuatan bahkan dilarang sandar, padahal sudah sampai di pelabuhan tujuan setelah perjalanan berminggu-minggu. Akibatnya banyak pemilik barang yang mencari tanki timbun di Dumai karena kapal tidak boleh sandar di Singapore.

Meski pandemi babak belur menghantam bisnis kepelabuhanan di seluruh dunia saat ini, Kota Dumai sebagai wilayah dengan garis pantai terpanjang justru tidak merasakan dampak dari kondisi tersebut.

Hal itu dikarenakan BUMD dan pemerintah Dumai tidak terlibat langsung dalam peluang usaha di kepelabuhanan secara utuh. kejadian ini membuktikan bahwa Dumai hanya menjadi penonton untuk bisnis kemaritiman yang justru menghasilkan pendapatan yang besar.

"BUMD Dumai ada izin BUP yang mereka kantongi, tapi saya tidak tahu mengapa potensi bisnis dalam BUP itu tidak dimaksimalkan oleh PT Pelabuhan Dumai Bersemai saat ini." kata Herman.

Membaca dari BUP (Badan Usaha Pelabuhan) yang ada pada BUMD Dumai saat ini, Herman menjelaskan bahwa core bisnis PT PDB sesungguhnya jasa pemanduan, karena izin mereka sama seperti PT Pelindo.

Namun realita di lapangan saat ini PT PDB hanya mengelola parkir dan tiket penumpang di pelabuhan Pelindo dan RoRo Dumai-Pulau Rupat.

Untuk mengambil peran usaha kemaritiman sesuai BUP yang dimiliki, saran Herman, PT PDB harus punya modal. Misalkan armada kapal tunda guna menunjang core bisnis mereka.

BUP yang sudah dikantongi oleh BUMD Dumai sudah bertahun-tahun namun tidak dapat dimaksimalkan hingga saat ini.***(GR-1)

Share
Berita Terkait
  • 10 jam lalu

    Minyak Mentah Tumpah Akibat Pipa Bocor, PT CPI Fokus Bersihkan Dermaga di Dumai

    Tumpahan minyak bumi itu disebabkan oleh adanya kebocoran pada pipa saat proses penyulingan.
  • 2 hari lalu

    Harga Sembako di Dumai Masih Stabil

    Namun kabar buruknya para pedagang memprediksi menjelang ramadhan harga sembako diyakini bakal naik sebagaimana tahun sebelumnya.
  • 4 hari lalu

    DHL Global Forwarding Partners Longhorn Vaccines & Diagnostics to Assure Safety and Efficacy of Lab Testing in Africa and Asia

    The pandemic has caused increased challenges in the intricate deliveries of temperature controlled shipments, including stricter controls at international borders, the absence of a
  • 4 hari lalu

    Microsoft Mendirikan Pusat Data Pertama di Indonesia Sebagai Bagian dari Inisiatif Berdayakan Ekonomi Digital Indonesia

    Pengumuman hari ini memegang peran penting dalam mempercepat transformasi digital Indonesia, menuju visinya menjadi negara dengan ekonomi digital terdepan di Asia Tenggara.
  • Komentar
    Copyright © 2021 Global Riau - Berita Riau Hari Ini. All Rights Reserved.
     
    loading...